Categories
Opini

Parasite , Oscar dan Ekosistem Perfilman Nasional

Kemarin saat pengumuman Film terbaik di ajang Academy Awards atau Oscar masyarakat perfilman dunia dikejutkan oleh film Parasite. Film ini adalah film pertama dari Korea Selatan yang menjadi nominasi di banyak kategori serta memenangkan beberapa kategori bergengsi sekaligus dan yang paling utama menjadi pemenang kategori Film Terbaik. Padahal Bong Joon Ho sang sutradara sebelumnya pernah berkomentar bahwa Oscar adalah ajang penghargaan film lokal karena biasanya pemenangnya hanya film – film dari Hollywood saja.

Pemilihan cast yang baik adalah salah satu kunci keberhasilan sebuah film.

Apa saja hal bisa kita ambil pelajaran dari prestasi film Parasite di ajang Academy Awards ?. Seperti kita tahu, industri film Indonesia belakangan menunjukkan progresivitas menjanjikan. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah penonton film Indonesia di bioskop dalam beberapa tahun terakhir.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mencatat, jumlah penonton film bioskop Indonesia meningkat 230 persen dalam lima tahun terakhir. Di tahun 2018 saja, penonton film bioskop tercatat mencapai 44 juta orang. Lonjakan jumlah penonton film itu dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah layar bioskop. Hal ini berdampak langsung pada meningkatnya sumbangan industri film pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional.

Beberapa tema yang menghasilkan jumlah penonton cukup banyak adalah tema pahlawan (superhero), keluarga, percintaan dan tentunya komedi. Saya sendiri sangat menyukai tema keluarga dan Laskar Pelangi adalah salah satu film bagus yang cukup membekas dalam ingatan saya.

Film Laskar Pelangi

Ada beberapa tantangan yang harus dijawab oleh pemerintah dan para pelaku industri perfilman dalam upaya meningkatkan kualitas ekosistem perfilman nasional hingga memungkinkan untuk memiliki prestasi internasional.

Tantangan Teknis

Yakni ketidakseimbangan antara ketersediaan pekerja film profesional dengan kebutuhan industri film. Menurut Bekraf, sejak tahun 2013 industri film Indonesia memproduksi rata-rata 110-130 film per-tahun. Jumlah itu tidak sebanding dengan ketersediaan pekerja film profesional yang menurut catatan Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI) hanya mencapai 7 ribu orang.

Ketimpangan ini menyebabkan kualitas produksi film Indonesia kurang maksimal, terlebih dibanding film asing. Kondisi ini merupakan dampak dari terbatasnya lembaga pendidikan di bidang perfilman. Selama ini, perfilman cenderung dianggap sebagai bidang yang tidak menjanjikan masa depan. Walhasil, peminat jurusan tersebut cenderung minim dan berakibat pada terbatasnya jumlah pekerja film profesional.

Konteks Pasar

Film Indonesia dihadapkan pada persaingan ketat berebut penonton dengan film asing, terutama film-film blockbuster asal Hollywood. Sudah menjadi kelaziman ketika pengusaha jaringan bioskop cenderung mengistimewakan film asing, apalagi blockbuster, yakni dengan memberi jatah layar lebih banyak dan masa tayang lebih lama ketimbang film lokal.

Logika ekonomi para pemilik bioskop yang menginginkan laba besar dari penjualan tiket, membuat mereka cenderung menganaktirikan film-film lokal.

Disrupsi Teknologi

industri film Indonesia mau tidak mau juga harus berhadapan dengan disrupsi akibat perkembangan teknologi. Kemunculan berbagai platform aplikasi layanan streaming film seperti NetflixHooqIflix dan Primeo Video telah mengubah perilaku penonton. Kini, orang bisa menonton film dari komputer pribadi bahkan telepon pintarnya hanya dengan berlangganan aplikasi tersebut, tanpa harus ke bioskop.

Kondisi ini sebenarnya menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, kemunculan media baru ini membuka kemungkinan film didistribusikan lebih luas dan menjangkau penonton lebih banyak. Di sisi lain, kemunculan media baru tersebut juga menjadi salah satu faktor yang tergerusnya jumlah penonton film di bioskop.

Di Amerika Serikat, kemunculan aplikasi layanan streaming film menyebabkan penurunan jumlah penonton bioskop sebesar 5,3 persen. Di Indonesia belum ada angka pasti seberapa jauh media baru tersebut berakibat pada penurunan jumlah penonton film di bioskop. Namun, tidak menutup kemungkinan fenomena yang terjadi di Amerika Serikat juga akan terjadi di Indonesia.

Mudah-mudahan pemerintah dapat membuat kebijakan – kebijakan yang ramah dengan industri perfilman sehingga para pelaku perfilman dapat berkarya dan menghasilkan film – film kualitas dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *